LPPL RADIO GAGAK RIMANG 105,9 FM

Jl.Reksodiputro Timur No 54 Komplek Taman Tirtonadi Blora- Jawa Tengah Telp : ( 0296 ) 531712.

Kasiyanto,se

DIREKTUR UTAMA LPPL RADIO GAGAK RIMANG FM BLORA- JAWA TENGAH.

M. Taufiq Qurohman

DIREKTUR SIARAN LPPL RADIO GAGAK RIMANG FM BLORA-JAWA TENGAH.

Ari Istiyaningsih

DIREKTUR ADMINISTRASI LPPL RADIO GAGAK RIMANG FM BLORA-JAWA TENGAH

Teguh Rudiyanto

Bidang Penyiaran dan Pemberitaan

Sukamto

Bidang Teknis

Eny Susanti

Bidang Pengelolaan Administrasi dan Umum

Adi Rahmat Widodo

Bidang Pengelolaan Keuangan dan Pemasaran

Seputar Blora

Melihat Lebih Dekat Perajin Celengan Gypsum di Desa Bangsri Kecamatan Jepon


GAGAKRIMANGFM.COM | BLORA - Perajin aneka karakter celengan (wadah uang untuk menabung) di Desa Bangsri, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Jawa Tengah bertahan di masa pandemi.

Produk kerajinan rumahan berbahan semen gypsum (semen putih) yang ditekuni oleh Derry Gudha Dharma (35) warga setempat itu terus berupaya menorehkan karya baik yang tidak semata meraup keuntungan untuk kelangsungan ekonomi rumah tangganya.

Tetapi juga berobsesi mengangkat potensi kerajinan desa Bangsri seiring dikembangkannya destinasi desa wisata kampung pelangi.

Derry, sapaan akrabnya, mengaku telah menekuni usahanya sekitar tiga tahun lalu.

"Saya mulai membuat kerajinan celengan berbahan gypsum ini sekitar tiga tahun lalu," kata dia, Minggu (31/1/2021).

Ia mengerjakan aneka bentuk karakter berbagai ukuran celengan di rumahnya RT 04/RW 1 desa Bangsri.

"Untuk pemasaran selain online, juga saya promosikan langsung kepada warga. Bahkan sudah ada tenaga penjual, seperti di Alun-Alun Blora," tambahnya.

Derry menyebut, dari bahan 1 karung tepung Gypsum (18 kg) mampu membuat aneka karakter celengan berukuran kecil sebanyak 80 hingga 90 buah. Sedangkan untuk ukuran sedang dan besar, menyesuaikan kebutuhan serta bentuknya.

"Setiap hari rata-rata mampu membuat 40 buah celengan berbagai karakter, seperti boneka doraemon, polisi, semar dan lainnya. Kemudian diwarnai dengan aneka warna cat sehingga menarik," terangnya.

Hanya saja, kata dia, kebanyakan peminat lebih suka yang masih polosan (belum di cat), kemudian diberi warna sendiri.

“Seperti yang dijual di Alun-Alun Blora, yang polosan diminati. Kemudian pembeli mengecat sendiri. Saya sediakan cat aneka warna jika ingin mewarnai di tempat sambil menikmati suasana malam di Alun-Alun Blora atau di kampung pelangi dan di rumah kami,” kata Derry.

Harga celengan gypsum untuk yang polos (belum dicat) Rp2.500,00 hingga Rp6.000,00 per buah. Sedangkan yang sudah diberi warna bisa mencapai Rp40.000,00 per buah untuk ukuran besar.

“Saya pilih semen gypsum karena warna dasarnya putih, sehingga tidak perlu mengecat warna dasar lagi seperti yang terbuat dari bahan tanah liat. Dengan demikian memudahkan warga atau pembeli jika ingin langsung memberi warna,” tambahnya.

Pada masa pandemi Covid-19, menurut Derry, omzet penjualan menurun. Namun itu tidak menjadi kendala untuk produksi.

“Iya memang omzet penjualan turun. Tapi saya tetap produksi. Ini kan tidak basi atau mudah rusak. Kendala lainnya, saat ini musim hujan, jadi proses pengeringan dengan sinar matahari juga berpengaruh,” jelasnya.

Derry mengaku belajar membuat celengan gypsum secara auotodidak. Sejumlah peralatan dan cetakan aneka karakter dimilikinya sendiri.

“Saya autodidak, saya punya alat dan karakter sendiri,” ucapnya.

Gayung bersambut, sejak dibukanya destinasi wisata kampung pelangi oleh pemerintah desa Bangsri, dinilai oleh Derry sebagai peluang usaha untuk memasarkan produksinya.

“Adanya destinasi wisata kampung pelangi di desa Bangsri ini menjadikan berkah dan peluang untuk mempromosikan celengan gypsum yang saya buat. Maka saya secara pribadi sangat mendukung adanya kampung pelangi sebagai destinasi wisata desa Bangsri,” ungkapnya.

Bahkan, kata dia, baru-baru ini, di rumah produksinya dijadikan sakah satu tujuan uji coba paket wisata desa yang dikunjungi.

“Bersyukur sekali, pengunjung senang, mewarnai celengan gypsum. Bahkan ada yang membeli lebih dari satu buah. Ini menjadi pemacu semangat saya dalam berkarya, terlebih di masa pendemi. Meski di rumah tetap berkerja,,” ujarnya.  (Tim Dinkominfo Kab. Blora). 

Kata penyiar

Tya Aristya

“Hidup itu bukan soal menemukan diri Anda sendiri, hidup itu membuat diri Anda sendiri.”

Sabella Ovi

“Hidup yang baik adalah hidup yang diinspirasi oleh cinta dan dipandu oleh ilmu pengetahuan.”

Emillia Vina

“Hal yang paling penting adalah menikmati hidupmu, menjadi bahagia, apapun yang terjadi.”

Fitri Novita

“Hidup itu bukan soal menemukan diri Anda sendiri, hidup itu membuat diri Anda sendiri.”

Andri Sanjaya

“Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit.”

Teguh Rudiyanto

“Saya memiliki filosofi yang sederhana: isi apa yang kosong, kosongkan apa yang terlalu penuh.”

Pippo Alvaro

“You Have Enough.”

Bung Aan

“Tujuan hidup kita adalah menjadi bahagia.”

Adi Kethuk

“Kawula mung saderma, mobah-mosik kersaning Hyang sukmo..”

Designed By Templatezy

Gambar tema oleh richcano. Diberdayakan oleh Blogger.