LPPL RADIO GAGAK RIMANG 105,9 FM

Jl.Reksodiputro Timur No 54 Komplek Taman Tirtonadi Blora- Jawa Tengah Telp : ( 0296 ) 531712.

Kasiyanto,se

DIREKTUR UTAMA LPPL RADIO GAGAK RIMANG FM BLORA- JAWA TENGAH.

M. Taufiq Qurohman

DIREKTUR SIARAN LPPL RADIO GAGAK RIMANG FM BLORA-JAWA TENGAH.

Ari Istiyaningsih

DIREKTUR ADMINISTRASI LPPL RADIO GAGAK RIMANG FM BLORA-JAWA TENGAH

Teguh Rudiyanto

Bidang Penyiaran dan Pemberitaan

Sukamto

Bidang Teknis

Eny Susanti

Bidang Pengelolaan Administrasi dan Umum

Adi Rahmat Widodo

Bidang Pengelolaan Keuangan dan Pemasaran

Seputar Blora

Pemdes Bleboh Berbenah Wujudkan Lokasi Kubur Batu Wong Kalang Jadi Destinasi Wisata Edukasi


GAGAKRIMANGFM.COM | BLORA - Pemerintah Desa Bleboh, Kecamatan Jiken Kabupaten Blora mulai berbenah mewujudkan kawasan gunung Pontang sebagai destinasi wisata edukasi budaya Wong Kalang.

Kepala Desa Bleboh Leles Budiyanto mengatakan hingga saat ini telah melakukan pemberdayaan masyarakat setempat dengan melibatkan relawan budaya desa Bleboh untuk menata lokasi situs kubur batu Wong Kalang yang berada di kawasan Perhutani petak 23C RPH Bleboh BKPH Nanas, KPH Cepu.

“Orang sini lebih lazim menyebutnya Gunung Pontang, karena letaknya seperti gundukan gunungan, meskipun sebenarnya itu adalah bukit,” kata Leles, di Bleboh, Kamis (29/10/2020).

Harapan Pemerintah Desa Bleboh, kata dia, lokasi itu menjadi obyek wisata yang bisa menopang pengembangan budaya setempat sehingga bisa mendukung Pendapatan Asli Daerah (PAD) di desa Bleboh.

“Jadi ini rencana dari pemerintah desa mau dikembangkan obyek wisata budaya yang lebih tertata dan terkonsep, yang nantinya pengelolaan cagar budaya serta pengembangannya ini melalui BUMDes. Nanti pada tahun 2021, insyaallah, bisa kita anggarkan melalui dana desa,” jelasnya.

Leles menyebut telah mengagendakan para relawan budaya setempat untuk membuat gazebo sebagai tempat istirahat di lokasi Gunung Pontang.

“Saya terimaksih kepada para relawan di Bleboh ini untuk pengembangan situs budaya,” ucapnya.

Menurut Kades Bleboh, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Asper dan Mantri Perhutani BKPH setempat yang hasilnya disepakati bersedia membantu pengelolaan situs tersebut.

“Kemarin saya sudah koordinasi dengan Pak Asper maupun Mantri Perhutani BKPH Nanas, dan menyatakan kesanggupannya atau bersedia membantu pengelolaan situs budaya yang ada ini,” kata Leles, Kades Bleboh.

Dari Pemkab Blora sendiri, tambah Leles, juga sudah mendukung dan sudah beberapa kali melakukan kunjungan ke lokasi.

“Hari Minggu (25/10/2020) kemarin dari Dinporabudpar Blora dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Pak Mantri saya undang, relawan juga saya undang. Disitu kita bahas hal-hal pengembangan, pembangunan dan pengelolaan yang ada di situs ini. Alhamdulillah semuanya mendukung,” jelasnya.

Termasuk dukungan pembuatan gazebo difasilitasi oleh Asper dan Mantri Perhutani setempat.

"“Untuk akses jalan, kita bertahap, karena untuk pengembangannya butuh penganggaran yang bisa kita anggarkan lewat dana desa dan mungkin bisa jadi bantuan dari pemerintah kabupaten untuk melestarikan cagar budaya ini,” ungkapnya.

Selain itu, tambah Kades Bleboh, dalam pengelolaan dan pelestarian situs cagar budaya juga bisa menggandeng pihak ketiga. 

"Dalam pelestarian situs cagar budaya juga bisa menggandeng pihak ketiga," tambahnya.

Kepala Dinporabudpar Blora Slamet Pamuji ketika dikonfirmasi terkait pemugaran makam Wong Kalang dipertahankan semaksimal mungkin karena merupakan cagar budaya.

"Kalau lingkungannya dimungkinkan bisa dipugar, tetapi kalau makam sendiri semaksimal mungkin dipertahankan sebagai cagar budaya," ucapnya.

Seperti diketahui sebanyak 15 makam kuno Wong Kalang ditemukan di kawasan hutan Desa Bleboh, Kecamatan Jiken, Blora. Temuan baru ini menambah daftar makam Wong Kalang yang ada di desa tersebut menjadi 23 makam. Jejak peradaban megalitikum itu harus dijaga dan dilindungi.

"Sebelumnya di Desa Bleboh sudah ada 8 makam yang ditemukan. Kemudian ditemukan baru, ada 15 makam. Jadi total ada 23 makam Wong Kalang di desa tersebut," terang Kepala Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Blora M. Solichan Mochtar mewakili Kepala Dinporabudpar Blora Slamet Pamuji.

Oleh karena itu jangan sampai dirusak karena ini menjadi aset budaya dan bisa dikembangkan jadi wisata edukasi sejarah.
Dikatakan Solichan, peradaban Wong Kalang sudah ada sejak zaman sebelum masuknya Hindu-Budha. Wong Kalang ini merupakan sub suku di Jawa yang tinggal di kawasan hutan.

Mereka hidup di kawasan Bojonegoro, Blora, Pati, dan sekitarnya. Biasanya makam Wong Kalang ditandai dengan batu besar di atasnya. Di dalamnya biasa juga terdapat benda berharga saat hidup yang turut dikubur atau yang disebut bekal kubur.

Makam batu besar yang ditemukan itu, tidak sebagaimana lazimnya makam pada zaman sekarang, khususnya makam Islam dengan posisi kepala di utara dan menghadap kiblat. Melainkan dengan meletakkan kepala ke arah timur dan kaki ke arah barat.

Proses pemakaman seperti itu menganut Konsepsi Chtonis, yang berpendapat, timur merupakan arah matahari terbit sehingga bisa diartikan sebagai awal kehidupan.

Sedangkan barat merupakan arah tenggelamnya matahari, yang dimaknai dengan akhir dari kehidupan. Perjalanan menuju tempat ke lokasi itu tidak mudah dan perlu dipandu oleh warga setempat. 

Dari pusat kota berjarak lebih kurang 27 kilometer, melewati simpang Desa Cabak di wilayah KPH Cepu. Kondisi jalan melewati tengah hutan jati itu banyak yang berlubang. Bahkan di antara lubang-lubang jalanan itu dipenuhi kubangan air.

Sekitar dua kilometer dari tempat kubur batu Wong Kalang, harus menempuh jalan kaki melewati jalan setapak. Kemudian melalui semak-semak penuh kerikil dan medan yang sangat berat. Bisa juga dilewati dengan kendaraan bermotor roda dua, namun harus ekstra hati-hati.

Makam batu dengan lebar satu meter dan panjang 2,5 meter, dan beberapa di antaranya lebih kecil sedikit dari ukuran itu, banyak yang sudah tidak utuh.

Menurut penuturan Kamituwo Dusun Bendo Desa Bleboh, Ngatmiyanto, hal itu akibat diambil orang-orang yang tidak mengetahui kalau itu adalah peninggalan bersejarah.

“Orang sini mengenalnya sebagai tapaan. Tetapi setelah ada penelitian dari Balai Arkeologi yang menyatakan lokasi itu adalah makam wong Kalang, barulah saya menyampaikan kepada warga. Awalnya, warga tidak percaya, bahkan saya juga dikomplain tapi akhirnya bisa dipahami,” kata dia.

Bahkan beberapa benda peninggalan Wong Kalang kerap ditemukan warga di sejumlah tempat, seperti sabit, golok, mata tombak dan pangot.

“Penemuan itu diserahkan kepada saya dan saya laporkan ke Dinporabudpar. Sebagian masih saya rawat untuk dibuatkan wrangka (wadah),” jelasnya.  (Dinkominfo Kab. Blora/Tim).

Kata penyiar

Tya Aristya

“Hidup itu bukan soal menemukan diri Anda sendiri, hidup itu membuat diri Anda sendiri.”

Sabella Ovi

“Hidup yang baik adalah hidup yang diinspirasi oleh cinta dan dipandu oleh ilmu pengetahuan.”

Emillia Vina

“Hal yang paling penting adalah menikmati hidupmu, menjadi bahagia, apapun yang terjadi.”

Fitri Novita

“Hidup itu bukan soal menemukan diri Anda sendiri, hidup itu membuat diri Anda sendiri.”

Andri Sanjaya

“Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit.”

Teguh Rudiyanto

“Saya memiliki filosofi yang sederhana: isi apa yang kosong, kosongkan apa yang terlalu penuh.”

Pippo Alvaro

“You Have Enough.”

Bung Aan

“Tujuan hidup kita adalah menjadi bahagia.”

Adi Kethuk

“Kawula mung saderma, mobah-mosik kersaning Hyang sukmo..”

Designed By Templatezy

Gambar tema oleh richcano. Diberdayakan oleh Blogger.