LPPL RADIO GAGAK RIMANG 105,9 FM

Jl.Reksodiputro Timur No 54 Komplek Taman Tirtonadi Blora- Jawa Tengah Telp : ( 0296 ) 531712.

Kasiyanto,se

DIREKTUR UTAMA LPPL RADIO GAGAK RIMANG FM BLORA- JAWA TENGAH.

M. Taufiq Qurohman

DIREKTUR SIARAN LPPL RADIO GAGAK RIMANG FM BLORA-JAWA TENGAH.

Ari Istiyaningsih

DIREKTUR ADMINISTRASI LPPL RADIO GAGAK RIMANG FM BLORA-JAWA TENGAH

Teguh Rudiyanto

Bidang Penyiaran dan Pemberitaan

Sukamto

Bidang Teknis

Eny Susanti

Bidang Pengelolaan Administrasi dan Umum

Adi Rahmat Widodo

Bidang Pengelolaan Keuangan dan Pemasaran

Seputar Blora

Mengenal "Wong Kalang", Suku Asli Jawa, Hidup Nomaden dari Hutan ke Hutan

Dinporabudpar Kabupaten Blora, Jawa Tengah menunjukkan benda bersejarah peninggalan suku kalang, Kamis (9/7/2020).(DOKUMEN DINPORABUDPAR BLORA)

gagakrimangfm.com
│Puluhan pemburu harta karun dari Kecamatan Kunduran, Blora  menggali lokasi yang disinyalir sebagai titik bersemayamnya harta peninggalan "Suku Kalang" atau " Wong Kalang". Suku Kalang atau Wong Kalang adalah salah satu subsuku di masyarakat Jawa. Mereka diperkirakan ada sejak zaman kerajaan-kerajaan Nusantara.  Dari berbagai literatur sejarah, karena suatu hal, mereka dikucilkan oleh masyarakat mayoritas saat itu. Pengucilan tersebut yang mengawali sebutan "kalang".    
 
Pengamat Sejarah Edy Tegoeh Joelijanto (51) yang pernah mengenyam pendidikan di UKDW Yogyakarta dan Universitas Putra Bangsa Surabaya, mengatakan, dari beberapa referensi, kata "kalang" berasal dari bahasa Jawa yang artinya "batas".  Lingkup sosial orang-orang ini sengaja dibatasi (dikalang) oleh masyarakat mayoritas waktu itu. Orang Kalang sengaja diasingkan dalam kehidupan masyarakat luas, karena dulu ada anggapan bahwa mereka liar dan berbahaya. Jejak Wong Kalang salah satunya ditemukan dalam prasasti Kuburan Candi di Desa Tegalsari, Kawedanan Tegalharjo, Kabupaten Magelang, yang berangka tahun 753 Saka (831 Masehi). Diperkirakan, Suku Kalang telah ada sejak Jawa belum mengenal agama Hindu-Budha. Menurut mitos, Suku Kalang adalah maestro pembuat candi yang secara fisik berbadan kuat dan tegap. Suku Kalang juga disebut sakti mandraguna dan pada era Majapahit, mereka ditugaskan untuk menjaga hutan agar tidak kemasukan penyusup yang membahayakan kerajaan. 

"Ada mitologi Suku Kalang itu dianggap sakti sehingga ditugaskan menjaga hutan dan dipekerjakan sebagai pembuat candi saat itu," kata Tegoeh saat dihubungi Kompas.com melalui ponsel, Kamis (9/7/2020). Suku kalang semakin tersisih oleh sistem pengastaan di masa Hindu-Budha, karena ketidakjelasan nenek moyang mereka. Suku Kalang pun mengasingkan diri hingga hidup nomaden dari hutan ke hutan.   Sementara itu, sambung Tegoeh, disebutkan dalam buku Javaansch Nederduitsch Woordenboek bahwa Kalang adalah nama sebuah etnis di Jawa yang dulu hidup di sekitar hutan. Suku Kalang memang memiliki fisik yang lain dengan penduduk setempat. 

Mereka berkulit legam dan berambut keriting. Orang Kalang juga sempat dianggap pendatang dari Kedah, Kelang, dan Pegu pada tahun 800 Masehi. Dengan sejumlah perbedaan fisik dan latar belakang tersebut, orang Kalang memilih hidup memisahkan diri dari pemukiman warga lainnya. Akhirnya, oleh otoritas Kerajaan Hindu saat itu, mereka dicap tidak memiliki kasta (kaum paria). Semakin besarlah jarak di antara mereka dan masyarakat umum. 

Sebab dalam sistem kasta, orang yang tidak berkasta tidak boleh berhubungan dengan orang yang berkasta, sekalipun itu orang dari kasta terendah (Sudra). "Banyak literatur tentang suku kalang," ujar Tegoeh.  

Kepala Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Kabupaten Blora, M Solichan Mochtar, menyampaikan, seiring dengan perkembangan zaman dan tidak berlakunya kasta, Suku Kalang sudah banyak berbaur dengan masyarakat lainnya, baik dalam pergaulan sosial maupun pernikahan. Suku ini sudah diterima dengan baik di Indonesia. Demikian pula sebaliknya, suku Kalang juga dapat menerima orang-orang dari luar sukunya. "Orang Kalang saat ini banyak tersebar di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta," kata Solichan.

Kata penyiar

Tya Aristya

“Hidup itu bukan soal menemukan diri Anda sendiri, hidup itu membuat diri Anda sendiri.”

Sabella Ovi

“Hidup yang baik adalah hidup yang diinspirasi oleh cinta dan dipandu oleh ilmu pengetahuan.”

Emillia Vina

“Hal yang paling penting adalah menikmati hidupmu, menjadi bahagia, apapun yang terjadi.”

Fitri Novita

“Hidup itu bukan soal menemukan diri Anda sendiri, hidup itu membuat diri Anda sendiri.”

Andri Sanjaya

“Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit.”

Teguh Rudiyanto

“Saya memiliki filosofi yang sederhana: isi apa yang kosong, kosongkan apa yang terlalu penuh.”

Pippo Alvaro

“You Have Enough.”

Bung Aan

“Tujuan hidup kita adalah menjadi bahagia.”

Adi Kethuk

“Kawula mung saderma, mobah-mosik kersaning Hyang sukmo..”

Designed By Templatezy

Gambar tema oleh richcano. Diberdayakan oleh Blogger.